Menakar Keseriusan Golkar Menangkan Jokowi

0
258
presiden-jokowi-dan-golkar
Oleh: Nasrudin Joha

Meski dalam lingkaran partai pengusung Jokowi, tetapi energi partai tidak mungkin digunakan secara sama untuk mempromosikan Jokowi sebagai capres 2019. Nyaris hanya PDIP, yang akan mengeluarkan energi yang setara antara menawarkan partai dan sosok Jokowi dalam pemilu dan Pilpres yang dilaksanakan serentak.

Adapun partai yang lain, yang tidak memiliki porsi -baik sebagai capres maupun cawapres- secara pragmatis akan memilih mengutamakan jualan partai dan caleg ketimbang jualan Jokowi. Apalagi, jika jualan Jokowi berpotensi menggerus elektabilitas partai.

Golkar, juga pada posisi itu sebagaimana partai yang lain yang tidak mendapat konsesi cawapres Jokowi. Munculnya MA sebagai cawapres, secara langsung telah membentuk friksi internal partai, karena dianggap kompensasi politik tidak setimbang dengan saham politik yang diberikan.

Jika hitung-hitungan suara, maka logis dan proporsional jika posisi cawapres menjadi hak Airlangga Hartanto Golkar, setelah posisi capres ada pada Jokowi PDIP. Munculnya MA, selain melawan asas proporsionalitas juga dianggap mengkerdilkan peran Golkar sebagai partai kawakan dan pemain gaek dalam belantika politik di negeri ini.

Absennya tokoh Golkar menjajakan Jokowi -bahkan terakhir andil Ical yang ikut mengkritik penentang tagar 2019 ganti Presiden- diyakini merepresentasikan posisi Jokowi dimata Golkar. Golkar masih memiliki peluang besar untuk mengambil alih kepemimpinan, dengan mengoptimalkan suara partai ketimbang berbagi gizi politik yang tak seimbang, padahal ancaman rontoknya elektabilitas Golkar jika menjajakan sosok Jokowi disamping dagangan partai sudah nampak di pelupuk mata.

Posisi Golkar jauh berbeda dengan Hanura. Bagi Hanura, tidak ada pilihan selain berjibaku mendukung habis habisan pencapresan Jokowi. Pasca belahnya kubu Manhattan dan Ambhara, masa depan politik Hanura adalah sangat suram (madesu).

Hanura tidak memiliki peluang dan kesempatan untuk bisa beroleh kekuasaan signifikan jika menjauh dari Jokowi. Bahkan, ancaman tidak lolos parlementary treshold pada pemilu 2019 menghantui Hanura.

Golkar memiliki kans besar untuk bangkit, mandiri menjadi besar ketimbang berkelindan di ketiak Jokowi. Diberbagai forum diskusi, kader Golkar relatif menahan diri ikut-ikutan memoles Jokowi. Ini kontras sekali dengan Hanura, yang kadang kehilangan akar dan jati diri partai jika sudah mempromosikan Jokowi.

Opsi Golkar keluar pagar juga terbuka lebar, karena memang tidak ada alasan kuat untuk terus berjibaku di barisan Jokowi. Golkar bisa saja kembali menjadi oposisi, ketika posisi itu diyakini akan memantik empati publik ketimbang berada dibarisan Jokowi. Sebab, suara partai Golkar tentu akan lebih diutamakan ketimbang suara Jokowi.

Sesungguhnya Golkar adalah bandul politik, jika Golkar pindah posisi maka neraca kesetimbangan politik Jokowi akan guncang. Golkar adalah partai dengan segudang pengalaman dan masih menggunakan ‘nalar sehat’ mengelola kekuasaan ketimbang PDIP.

Pindahnya Golkar juga tinggal menunggu momentum politik. Tekanan dolar terhadap rupiah, kegagalan ekonomi, tingkat keemohan publik kepada Jokowi yang semakin tinggi, tentu cukup menjadi jalan keluar untuk exit dari kubu Jokowi dengan menggaungkan ujaran “suara Golkar suara rakyat”, saat ini rakyat tidak menghendaki Jokowi. Karenanya, Golkar mempertimbangkan mengikuti suara rakyat dan dengan berat hati menyatakan mencukupkan diri bersama Jokowi. Bisa saja. [].

Title:

Menakar Keseriusan Golkar Menangkan Jokowi

Writer: Ahmad Khozinuddin S.H